NEWS | CAREER WITH US

News

home » news

AKOMODASI: Investor Mulai Lirik Bali Utara dan Timur (18/09/2012)

 DENPASAR–Kamar Dagang dan Industri Provinsi Bali menilai banyak investor mulai melirik Bali Utara dan Timur untuk membangun bisnis akomodasi pelosok desa yang kini menjadi tren baru.

Gde Semadi Putra, Komite Tetap Jasa Properti Kadin Bali, mengatakan sekarang ini banyak investor yang tertarik untuk berbisnis akomodasi di luar wilayah Bali Selatan yang penuh sesak dengan berbagai usaha properti hotel.
 
“Kini para investor mulai mencari lokasi lain untuk membangun bisnis akomodasi dengan suasana yang lebih alami dan menjadi tren baru wisman untuk bisa menikmati suasana alam di desa-desa,” katanya, Rabu (1/8).
 
Gde menjelaskan alami yang di maksud adalah dengan karakteristik desa Bali asli, para tamu bisa menginap di rumah penduduk lokal, berinteraksi sehari-hari dengan masyarakat desa setempat seperti belanja di pasar dan ikut kegiatan pertanian.
 
“Tren ini disukai para wisman karena mereka bisa mendapatkan suasana alam dan bisa terlibat langsung dalam rutinitas sehari-hari masyarakat setempat,” tuturnya.
 
Ia mencontohkan beberapa lokasi yang diincar para investor untuk membangun fasilitas akomodasi yang lebih alami seperti di Kabupaten Karangasem dan Buleleng. Sebagian investor ini meninggalkan wilayah selatan yang sudah jenuh dan memiliki tingkat kemacetan lalu tintas tinggi.
 
“Di Buleleng, misalnya, rumah penduduk mulai direnovasi ala hotel berbintang tetapi tetap menunjukkan suasana alami dan karakteristik Bali yang masih kental,” jelasnya.
 
Direktur Eksekutif Bali Hotel Association (BHA) Djinaldi Gosana mengatakan memang benar banyak investor yang mulai melirik Bali bagian utara dan timur untuk membangun bisnis akomodasi.
 
“Harga tanah di Bali Selatan, seperti Kuta dan Jimbaran semakin tinggi sehingga dapat dimengerti jika para investor sekarang menargetkan daerah lain untuk bisnis akomodasinya,” katanya.
 
Djinaldi mengatakan Bali banyak dikunjungi oleh wisman khususnya untuk menghabiskan liburan ke desa-desa sehingga investor melihat kesempatan tersebut untuk membangun di bagian utara dan timur pulau Bali.
 
“Sejalan dengan tren, BHA sendiri juga sudah mempunyai proyek pariwisata berbasis masyarakat dengan mengembangkan tujuh desa wisata termasuk di Kabupaten Buleleng dan Karangasem,” ujarnya.
 
Menurutnya, BHA bukan mengikuti tren seperti itu tetapi merupakan bagian dari corporate social responsibility untuk mengembangkan desa wisata yang banyak diincar pensiunan dari Eropa karena tertarik berlibur di Bali selama musim dingin di negara mereka.
 
“Dalam konsep kami, penduduk desa adalah subjek. Investor diperbolehkan untuk membangun fasilitas apa saja tetapi harus mengerahkan penduduk setempat seperti melakukan renovasi rumah penduduk,” jelasnya.
 
Para wisman bisa menginap di rumah penduduk desa setempat dan bergabung dengan kegiatan sehari-hari secara langsung juga memberikan pendapatan kepada penduduk desa.
(redaksi.dps@bisnis.co.id/k2)